Saya lahir pada tahun 199x di sebuah rumah sakit di Bandung. Tidak ada kisah dramatis yang saya ingat tentu saja, tetapi kota ini menjadi titik awal dari seluruh perjalanan hidup saya. Bandung, dengan suasana yang tenang dan iklim yang sejuk, menjadi latar pertama tempat saya tumbuh sebagai seorang anak.
Pada usia lima tahun, saya mulai belajar pendidikan agama di sebuah madrasah, yang saat itu belum termasuk pendidikan formal. Di sana, saya mengenal huruf hijaiyah, doa-doa harian, serta kisah para nabi. Pengalaman ini menjadi awal perkenalan saya dengan nilai-nilai kebaikan dan hal-hal positif, yang secara perlahan membentuk cara saya belajar dan memahami dunia.
Saat masih duduk di bangku SD, gadget belum menjadi bagian dari kehidupan anak-anak. Waktu kami lebih banyak dihabiskan bermain di luar bersama teman teman bermain kelereng, kartu bergambar, petak umpet, hingga sepak bola. Kami benar-benar larut dalam permainan dan kebersamaan. Berlari, tertawa, kadang bertengkar kecil lalu cepat berdamai, menjadi bagian dari keseharian. Masa itu terasa sederhana, namun meninggalkan kenangan yang hangat dan sulit dilupakan.
Saat SMP, teknologi belum menjadi pusat perhatian. Smartphone masih jarang, dan keseharian saya berjalan sederhana berangkat sekolah dengan berjalan kaki atau naik kendaraan umum lalu menghabiskan waktu bersama teman teman tanpa banyak distraksi digital.
Di tengah rutinitas itu, saya aktif selama dua tahun di Pramuka dan Perisai Diri. Kegiatan ini menjadi ruang belajar disiplin, teamwork, dan keberanian nilai dasar yang terus membentuk cara saya bersikap hingga sekarang.
Di Sekolah Menengah Atas, saya memilih jurusan IPA dan cukup aktif dalam berbagai kegiatan ekstrakurikuler. Beberapa organisasi yang saya ikuti antara lain Palang Merah Remaja, Pecinta Alam, serta Majelis Perwakilan Kelas (MPK). Meskipun keterlibatan saya masih pada tingkat dasar hingga menengah (beginner dan intermediate), pengalaman tersebut memberikan banyak pelajaran berharga tentang kerja tim, kepedulian sosial dan pengembangan diri.
Di sekolah, saya bukan termasuk murid yang menonjol secara akademis. Saya sering kesulitan dalam pelajaran yang berhubungan dengan perhitungan, seperti Matematika. Tapi di luar itu, saya memiliki ketertarikan dan kemampuan yang cukup baik di beberapa mata pelajaran, terutama Kimia, Biologi, Sejarah, dan Geografi.
Saat itu, saya sangat tidak tertarik dengan pelajaran bahasa asing, seperti Bahasa Inggris dan Bahasa Arab. Saya merasa asing dan sulit untuk memahaminya. Namun, ada satu pelajaran yang benar-benar menarik perhatian saya: TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi). Di situlah saya pertama kali belajar tentang komputer dan dari sanalah titik balik itu dimulai.
Pelajaran TIK membuka mata saya terhadap dunia teknologi, dan sejak saat itu, minat saya mulai tumbuh. Inilah awal dari perubahan besar dalam hidup saya. yang akhirnya membuat saya belajar berbagai bahasa
Berkat kemampuan saya dalam menggunakan komputer dan mengolah data dengan Microsoft Excel, saya bergabung dengan CV. XXXXXXX sebagai staf pendukung operasional. Perusahaan ini bergerak di bidang layanan korporasi dan aktivitas terkait trading. Selama bekerja di sana, saya banyak terlibat dalam pengolahan data menggunakan Microsoft Excel, disana saya mendapatkan berbagai wawasan berharga dan pengalaman mendalam dasar analisis dalam dunia investasi.
Setelah lulus, saya memperoleh kesempatan kerja melalui rekomendasi keluarga. Saya bekerja sebagai Helper Teknisi di proyek PT Pertamina, sekaligus membantu administrasi lapangan di perusahaan rekanan, PT Prima ****. Ini merupakan pengalaman pertama saya di dunia kerja profesional dan secara finansial cukup menjanjikan.
Di balik itu, tantangan utama justru datang dari lingkungan di luar area kerja yang kurang aman. Tingginya risiko kriminal membuat aktivitas sehari-hari terasa tidak nyaman, dan kondisi tersebut akhirnya memengaruhi keputusan saya dalam menentukan langkah selanjutnya.
Pada tahun ini, saya bekerja sebagai desainer grafis di sebuah usaha konveksi, sekaligus membantu proses penjualan. Peran ini mengasah kemampuan desain sekaligus komunikasi dengan pelanggan. Saya terbiasa menggunakan Adobe Photoshop, Illustrator, serta CorelDRAW untuk memenuhi kebutuhan grafis produksi.
Di luar pekerjaan utama tersebut, saya juga menjalani pekerjaan paruh waktu dengan membantu mengelola bisnis warnet milik seorang teman. Saya terlibat dalam operasional harian dan perawatan perangkat disana. Pengalaman ini memberi saya pemahaman praktis tentang manajemen usaha kecil dan wirausaha.
Pada tahun ini, saya bekerja sebagai Sales Merchandiser sebagai pekerjaan utama. Di luar jam kerja, saya juga mengambil beberapa part time mulai dari Japanese restaurant, bakery, dan fashion retail.
Bekerja di lingkungan yang beragam memberi saya pengalaman langsung dalam mengatur waktu, berinteraksi dengan pelanggan, serta beradaptasi dengan cepat pada budaya dan ritme kerja yang berbeda. Setiap peran memiliki tuntutan dan standar yang unik, yang secara bertahap membentuk cara kerja saya menjadi lebih disiplin, fleksibel, dan responsif terhadap situasi.
Setiap fase yang saya jalani selalu saya manfaatkan sebagai ruang untuk continuous learning and growth. Saya terlibat secara langsung dalam berbagai aspek operasional mulai dari product branding, human resource management, warehousing, packing, hingga distribution flow.
Di luar proses tersebut, saya secara konsisten meluangkan waktu untuk turun langsung ke lapangan, memahami dinamika pasar secara nyata, serta mengasah keterampilan melalui interaksi langsung dengan konsumen. Pendekatan ini membantu saya membangun pemahaman yang lebih komprehensif bukan hanya tentang bagaimana sebuah bisnis dijalankan, tetapi juga bagaimana ia bertahan dan berkembang dalam kondisi nyata.
Setelah menjalani berbagai peran dan ritme kerja yang intens, saya mulai mempertanyakan arah jangka panjang yang ingin saya bangun. Pada titik inilah saya akhirnya memberanikan diri untuk memulai bisnis sendiri
Berangkat dari hobi memasak, saya memilih terjun ke bisnis kuliner dengan fokus pada olahan ikan. Produk awal yang saya kembangkan meliputi fish nuggets, shredded fish (abon ikan), dan fish crackers (keripik ikan). Respons pasar cukup positif produk yang saya buat diterima dengan baik dan mulai diminati oleh banyak orang
Sejak dulu, saya terbiasa ikut membantu usaha yang dijalankan orang tua. Mereka sering menjalankan beberapa bisnis secara bersamaan mulai dari ternak ikan, itik dan entok, hingga pertanian. Tidak semua usaha tersebut selalu berjalan lancar ada fase menguntungkan, namun ada pula masa mengalami kerugian. Dari situ, saya belajar bahwa dunia usaha bukan tentang hasil instan, melainkan tentang proses, ketahanan, dan kemampuan bertahan.
Di setiap waktu luang yang saya miliki, saya berusaha untuk terlibat langsung. Melalui keterlibatan ini, saya memahami bagaimana risiko diambil, keputusan dibuat, dan kegagalan dihadapi secara nyata. Pengalaman tersebut memberi saya perspektif yang lebih jujur tentang bisnis bahwa naik dan turun adalah bagian yang tidak terpisahkan.
Pembelajaran yang terbangun sejak dini ini secara perlahan membentuk cara saya berpikir dan bekerja. Ketika kemudian saya menjalankan usaha sendiri, saya sudah terbiasa dengan dinamika tersebut. Setelah melewati berbagai tantangan, usaha yang saya jalankan mulai stabil dan berjalan lebih konsisten
Di fase ini, saya bertemu dengan banyak orang baik yang perlahan mengubah cara pandang dan mindset saya. Dari obrolan-obrolan sederhana, mereka membuka wawasan saya tentang bagaimana sebuah bisnis bisa scale up, meningkatkan omzet, dan melihat peluang dari sudut pandang yang berbeda.
Dari pertemuan itu, kami sempat brainstorming dan mulai merancang sebuah produk bersama. Sayangnya, rencana tersebut harus berhenti di tengah jalan karena beberapa alasan. Meski begitu, pengalaman ini memberi saya pelajaran penting: building a business together is not that simple.
Bisnis bersama bukan sekadar mimpi atau ide menarik di atas kertas. Dibutuhkan commitment, hard work, dan clear communication agar bisa berjalan searah. Setiap proses menuju hasil selalu menuntut kesabaran, konsistensi, dan kesungguhan untuk tetap melangkah, bahkan ketika rencana tidak berjalan seperti yang dibayangkan.
Pengalaman tersebut tidak membuat saya berhenti mencoba. Saya justru belajar bahwa bekerja bersama banyak orang memang menghadirkan tantangan tersendiri, karena setiap orang membawa sudut pandang dan cara berpikir yang berbeda. Jika tidak dikelola dengan baik, perbedaan ini bisa memperlambat pengambilan keputusan.
Dari situ, saya memilih untuk memulai kolaborasi dalam lingkup yang lebih sederhana, bersama satu orang terlebih dahulu. Bukan karena ingin berjalan sendiri, melainkan agar proses diskusi, pembagian peran, dan pengambilan keputusan bisa berjalan lebih fokus dan seimbang. Pendekatan ini membantu saya belajar membangun kerja sama yang sehat sebelum melangkah ke skala yang lebih besar.
Bisnis pertama yang saya jalankan adalah produk olahan ikan, dengan sistem penjualan konvensional serta melalui beberapa platform online seperti Shopee, Lazada, Tokopedia, dan Bukalapak. Proses yang saya lakukan mencakup produksi, pengemasan, hingga penjualan langsung kepada konsumen.
Bisnis kedua dijalankan bersama rekan, dan tetap berada di ranah online shop, namun dengan kategori fashion. Proses pembuatan produk dilakukan oleh salah satu rekan yang memiliki konveksi, sementara kegiatan pemasaran dan penjualan dilakukan secara digital. Aktivitas usaha meliputi pengelolaan toko online, pemasaran produk, hingga proses transaksi.
Pada fase berikutnya, saya menjalankan bisnis bersama satu orang teman, dan usaha ini juga sepenuhnya berbasis online. Model bisnis yang dijalankan adalah dropship dan maklon, dengan fokus pada penjualan dan pengelolaan produk, tanpa terlibat langsung dalam proses produksi.
Seiring bisnis berjalan dan mulai berkembang, berbagai tantangan pun ikut muncul. Dalam prosesnya, terjadi beberapa perbedaan pandangan dan kesalahpahaman yang akhirnya membuat kami sepakat untuk berjalan terpisah. Keputusan ini diambil secara baik-baik, tanpa mengurangi rasa saling menghormati.
Setelah berpisah, saya membuat usaha secara mandiri dengan bidang yang sama. Sementara itu, bisnis yang dijalankan oleh rekan saya hanya bertahan sekitar tiga bulan, sebelum akhirnya benar-benar berhenti. Penutupan usaha tersebut meninggalkan tanggung jawab finansial yang cukup besar.
Dalam perjalanan itu, saya memahami bahwa ada beberapa faktor yang memengaruhi kondisi tersebut, mulai dari pengelolaan bisnis yang belum optimal hingga situasi internal keluarga yang bersifat pribadi dan tidak etis untuk diceritakan secara detail.
Perjalanan saya tetap berlanjut meski harus memulai kembali sendirian. Awalnya tidak mudah, namun perlahan aktivitas bisnis kembali berjalan seperti sebelumnya. Seiring waktu, saya kembali membangun kantor kecil dan bekerja bersama beberapa orang dalam satu tim.
Mereka bukan saya anggap sebagai karyawan, melainkan bagian dari tim yang berperan penting dalam proses berkembangnya bisnis. Kami bekerja bersama, saling mendukung, dan bergerak dengan tujuan yang sama.
Pada tahap berikutnya, salah satu rekan mengajak saya untuk melakukan merger dua perusahaan. Tawaran tersebut saya terima. Saya menyadari bahwa meskipun bisnis bisa dijalankan sendiri, untuk berkembang lebih cepat dibutuhkan kolaborasi, kerja bersama, dan pertukaran insight agar bisa melangkah lebih jauh.
Setelah kolaborasi berjalan, bisnis berkembang dengan sangat pesat, bahkan melampaui capaian sebelumnya. Skala operasional meningkat, alur kerja semakin tertata, dan jangkauan pasar menjadi lebih luas seiring bertambahnya proyek dan kerja sama yang dijalankan.
Cerita berikutnya akan saya tulis secara terpisah di bagian blog. Bagian ini jauh lebih panjang, lebih kompleks, dan penuh fase yang tidak selalu masuk akal jika dilihat dari luar. Isinya tentang bagaimana sebuah perjalanan bisa berubah drastis cepat, keras, dan tidak terduga
Beberapa hal yang akan saya ceritakan: